Nabire (8/2) – DPD Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kabupaten Nabire terus berkomitmen memperkuat pembinaan generasi penerus sejak usia dini. Langkah konkret ini diwujudkan melalui kolaborasi strategis dengan Forum Sepak Bola Generasi Indonesia (Forsgi) Nabire dalam upaya mencetak atlet berkarakter sekaligus menyiapkan kader organisasi yang tangguh di masa depan. Kegiatan ini dilaksanakan di Lapangan Mini Soccer kompleks Masjid Miftahul Jannah Karang Mulia Nabire pada Minggu, 08 Februari 2026.
Ketua Forsgi Nabire, H. Nasirun, menekankan bahwa pembinaan atlet sepak bola bukan sekadar soal mengolah si kulit bundar di lapangan, melainkan sebuah investasi jangka panjang dalam dunia pendidikan.
“Pembinaan atlet sejak usia dini sangatlah krusial. Melalui olahraga, anak-anak belajar disiplin, kerja sama tim, dan sportivitas. Nilai-nilai ini memberikan manfaat besar bagi prestasi mereka di dunia pendidikan formal serta membentuk mentalitas juara yang rendah hati,” ujar H. Nasirun.
Senada dengan hal tersebut, Ketua LDII Nabire, Pawiro, S.P., menjelaskan bahwa kerja sama ini merupakan bagian dari kurikulum pembinaan berkelanjutan bagi warga LDII. Menurutnya, olahraga adalah sarana paling efektif untuk menyentuh berbagai aspek perkembangan anak secara serentak.

“Kami ingin mengoptimalkan tumbuh kembang anak secara menyeluruh, mulai dari fisik yang kuat, kognitif yang tajam dalam menyusun strategi, hingga kecerdasan emosional saat menghadapi kemenangan maupun kekalahan,” jelas Pawiro.
Program pembinaan ini juga diproyeksikan sebagai langkah strategis organisasi dalam menyiapkan estafet kepemimpinan. Dengan generasi muda yang sehat dan berkarakter, LDII Nabire optimis masa depan organisasi akan berada di tangan yang tepat.
“Generasi usia dini yang kita bina hari ini adalah pondasi utama penerus organisasi LDII Nabire di masa mendatang. Kami ingin mereka tumbuh menjadi pribadi yang profesional dan religius,” pungkasnya.
DPD LDII Kabupaten Nabire adalah organisasi kemasyarakatan yang fokus pada pembinaan umat melalui dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat untuk menciptakan sumber daya manusia yang profesional religius. (Yurie)
